Jumat, 02 November 2018

mengenal sanggar midang


foto dihari idul fitri

Sanggar midang berdiri pada tanggal 1 agustus 2016, keberadaan sanggar ini tidak terlepas dari peran beberapa pemuda yang berada didaerah midang kec. Gunungsari : nawawi, fathurrahman, fathurrahim, samsul arifin dan roni. Berawal dari kegusaran sekumpulan pemuda ini terhadap penomena sosial yang bergelinding di midang, mereka mencoba memecahkan beberapa problem sosial sederhana yang selama ini mereka hadapi. Tersadar akan pentingnya membina generasi penerus yang lebih baik, kawan-kawan sanggar ini kemudian menjadikan anak-anak dan remaja sebagai sasaran dakwah atau  objek yang mesti diarahkan. Selama ini, mungkin saja perspektif terhadap anak-anak hanya sebatas “mereka hanya bisa bermain, menangis, dan habis-habisin uang” hampir tidak ada pandangan kedepan bahwa mereka adalah penerus yang akan menjadi bagian dari masyarakat yang kelak akan mempengaruhi orang lain. Awalnya, sanggar midang ini bernama sanggar belajar dan seni, setelah berjalan beberapa tahun, barulah kemudian ada inisiatif dari kawan – kawan sanggar untuk merubah nama karena mempertimbangkan penyebutan yang terlalu panjang dan terlalu absurd. Beberapa masukan pun datang dari komunitas besar seperti pasir putih pemenang. Ketika kami berkunjung ke pemenang, muhammad sibawaihi yang juga adalah salah satu penggerak penting pasir putih menyarankan bahwa penamaan sanggar belajar & seni itu sebaiknya dirubah menjadi Sanggar midang, lebih simpel dan mudah disebut.
Logo Pertama Sanggar

Sanggar midang adalah komunitas yang bergerak dalam ranah pendidikan yang bertujuan untuk mengedukasi peserta didik dari kalangan anak-anak, pemuda, dan seluruh lapisan masyarakat. Sejauh ini, kawan - kawan sanggar masih belajar . Ada berbagai macam program yang sudah mereka jalani, diantaranya yaitu: magrib mengaji, teras bahasa inggris, sp (sekolah perjumpaan), ngaji tajwid, dan bahasa arab. sejak tahun 2016 sampai tahun ini, sanggar midang sudah berumur dua tahun dan setiap momen hari jadi, sanggar midang selalu merayakannya dengan kegiatan sederhana. tahun lalu, kawan-kawan merayakan hari jadi sanggar dengan menggelar beberapa lomba yang berlokasi di kantor desa midang. beberapa lomba itu antara lain: lomba hafizul Qur'an tingkat anak-anak, mewarnai dan lomba pidato. di bulan agustus kemarin, peringatan hari jadi sanggar dirayakan dengan sangat sederhana yaitu khatmul Qur'an dan sosialisasi program sanggar ke seluruh tokoh yang ada di dusun midang. 


Foto bersama para tokoh midang dihari jadi sanggar

Al-hamdulillah, selama ini, sudah lumayan banyak orang-orang hebat yang berkunjung ke sanggar hanya untuk membagi pengetahuan. ditahun 2017 lalu, seorang seniman perempuan berasal dari polandia bernama marta bisa berkunjung ke sanggar dan membagi ilmu melukis dengan memanfaatkan media daun. berkenalan dengan mis marta tidak terlepas dari peran komunitas pasir putih. pasir putih lah yang menawarkan mis marta main-main ke sanggar dan al-hamdulillah kunjungan bermain itu pun kemudian berakhir dengan kesan yang manis dan bermanfaat. sudah dua kali tamu dari luar negri berkunjung ke sanggar, selain mis marta, ada juga pelajar dari argentina bernama leonardo yang membagi ilmu bahasa inggris ke sanggar. tidak kalah antusias, orang-orang besar dari lombok pun sudah sering bermain dan ngopi di sanggar seperti prof. husni muaz-pendiri sekolah perjumpaan- dan prof. taufik guru besar UIN mataram. 
Hasil menggambar adik-adik setelah diajar oleh mis marta

Semenjak berdiri 1 agustus 2016 sampai sekarang, sanggar midang sudah dua kali mengadakan pemilihan ketua. Adapun ketua pertama yang menahkodai sanggar midang ialah saudara fathurrahman, sekertarisnya samsul arifin. Setelah kepemimpinan fathurrahman usai selama 1 tahun, kursi ketua diserahkan kepada saudara ramli, sekertarisnya saudara guntur akbar. Setelah ramli menyelesaikan amanat yang diberikan padanya, kursi ketua kemudian diberikan kepada saudara guntur akbar, sekertarisnya jihan hidayat.
Kekuatan dari seluruh program yang telah terencana diatas itu bermula dari magrib mengaji. setiap magrib, peserta didik dan kawan – kawan pengurus berkumpul di sanggar untuk belajar mengaji. Selain mengaji, dalam pertemuan setiap magrib itu, ada proses menyambung silaturahmi dan membangun rasa kepemilikan atau militansi terhadap komunitas ini. Seusai mengaji, biasanya kawan-kawan sanggar berdiskusi ringan membahas isu-isu sosial yang terjadi di desa. Proses diskusi dan berkomunikasi itulah yang mendorong mereka harus membuat semacam komitmen kolektif yang harus disepakati dan dikawal bersama-sama demi kemajuan sanggar midang. Magrib mengaji ini sendiri sudah ada sebelum nama sanggar itu ada. Mengingat, lokasi sanggar ini berada dirumahnya nawawi yang memang sedari dulu sudah menjadi lokasi mengaji pemuda-i dusun midang. Karena tradisi mengaji ini sudah kuat dan mengakar dari dahulu, semenjak H. Musleh (alm) masih menjadi guru pertama di sanggar-walaupun penamaan sanggar belum ada namun lokasi yang dijadikan tempat mengaji itu sama- jadi susah memisahkan keberadaan sanggar dari tradisi magrib mengaji ini.

 Kemudian di lanjutkan dengan teras bahasa inggris. Sesuai dengan namanya teras bahasa inggris adalah sebuah rogram rutin pembelajaran bahasa inggris yang dilaksanakan setiap hari jumat sore bertempat di teras – teras warga dusun midang. Program ini pertama kali dimulai pada tanggal 14 september 2018.pada awal pelaksanannya ada sekitar lima peserta didik yang mengikuti program ini, namun setelah berjanalan beberapa bulan peserta didik mulai bertambah sekitar puluhan orang. Program ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang pentingnya mempelajari bahasa inggris yang dimana antusiasme peserta didik dalam belajar bahsa inggris khususnya di dusun midang terbilang minim, oleh karena itu program ini bisa menjadi solusi untuk meningkatan motivasi peserta didik dalam menguasai bahasa inggris. Lebih jauh lagi para peserta didik ini diharapkan bisa menjadi generasi pengajar pelajaran bahsa inggris di dusun midang.
Belajar tajwid mulai diterapkan beberapa minggu setelah sanggar didirikan dan peserta didik telah mulai melaksanakan magrib mengaji. Awal diadakannya ngaji tajwid ini karena para pengurus sanggar Midang sadar bahwa ilmu tajwid ini sangat penting diajarkan kepada peserta didik, untuk membantu mereka  memahami Al-Qur’an, terutama tentang hukum bacaan Al-Qur’an. Demi tercapainya apa yang diharapkan dari ngaji tajwid ini, peserta didik dijelaskan tentang materi hukum bacaan, kemudian langsung dipraktikkan bagaimana cara membacanya di dalam Al-Qur’an. alhamdulillah sebagian dari peserta didik sudah lancar dalam membaca Al-Qur’an sesuai dengan hukum bacaan yang telah mereka dapatkan dari ngaji tajwid.
 Selain kedua program itu, kawan-kawan sanggar juga menerapkan program SP (sekolah perjumpaan). SP ini adalah  salah satu program yang di inisiasi oleh prof. Husni muadz salah seorang Guru Besar Universitas Mataram, dimana sekolah perjumpaan ini merupakan sebuah model pembelajarn nilai yang bertujuan untuk menormalisai hubungan sosial. Pembelajaran inti dalam SP adalah mengaktifkan nilai-nilai universal dalam berbahasa dan berperasaan saat berjumpa dengan orang lain, diantara adalah kejujuran, tanggungjawab, menepati janji, kesabaran, ketulusan dan lain-lain. Sejauh ini program SP tersebar di kurang lebih 50 titik dan salah satunya di Dusun Midang. Adapun dampak langsung yang dihasilkan dari penerapan program SP (Sekolah Perjumpaan) di Sanggar Midang dapat dilihat dan dirasakan oleh kawan-kawan Sanggar, orang tua peserta didik,  peserta didik itu sendiri serta masyarakat Dusun Midang Secara umum. SP ini mendidik seseorang  untuk menganalisa berbagai kegiatan di sekitar sanggar dan diri sendiri. di sp ada beberapa kegiatan yang mereka lakukan sebut saja program tersebut bedah buku, setiap malam minggu para peserta didik berkumpul untuk mempresentasikan hasil bacaan dari bedah buku tersebut, program sp ini secara tidak disadar juga mengajar peserta didik untuk belajar bagai mana cara berpresentasi yang baik dan benar.
Program bahasa arab terhitung masih baru karena mengingat, ketertarikan terhadap bahasa arab tidak sama seperti bahasa inggris. Hal ini dikarenakan bahasa inggris sudah menjadi bahasa kebutuhan bagi manusia milenial. Pembelajaran bahasa inggris itu pun,harus diakui, jauh lebih asik dibandingkan dengan pembelajaran bahasa arab. Selama ini, bahasa arab terkesan masih kaku dan masih terikat dengan kesakralan. Setiap huruf hijaiyah itu diasumsikan seperti Al-Qur’an yang apabila kita salah dalam mengucapkannya akan mendapat dosa. Paradigma yang demikian itu membengkak dan berkembang di masyarakat desa khususnya dan masyarakat indonesia umumnya. Jadi, program bahasa arab yang ada disanggar midang ini akan berusaha menampilkan bahasa arab sebagai bahasa yang asik, mudah dipelajari dan tidak membosankan.



Seriring berjalan waktu, kawan-kawan sanggar berdiskusi untuk membuat sebuat program baru dan menarik. Kali ini nama program tersebut yaitu midang hijau. Dimana program ini tidak di fokuskan pada satu titik, akan tetapi program ini di fokuskan untuk seluruh desa midang. Pada tanggal 9 oktober 2018 para pendiri sanggar membuat sebuah taman. Ada berbagai macam sayuran yang meraka tanam yaitu cabai, terong, dan sayur mangkok(pakcoi). Taman tersebut selain digunakan untuk bertanam juga sering menjadi lokasi belajar bahasa inggris.
Kesemua program yang dilakukan itu tidak lain bertujuan untuk terus belajar mengasah kemampuan kawan-kawan demi bersama memajukan desa midang tercinta.


Jumat, 12 Oktober 2018

cerita di taman mini

teras bahasa inggris

            Rabu, 10 oktober 2018 pekarangan samping mushola darul huda di Rt 10 dusun midang, desa midang telah selesai digarap oleh kawan-kawan sanggar dan masyarakat setempat sebagai lokasi pertama program midang hijau. 52 bibit cabai, terong, dan sayur-sayuran lainnya telah ditanam dengan teknik hidroponik. Sepengetahuan saya, teknik hidroponik adalah teknik kekinian dalam usaha membudidayakan tanaman dengan menekankan pada pemenuhan nutrisi bagi tanaman atau dalam pengertian yang sangat sederhana, bercocok tanam dengan tanpa tanah yang luas. Di mana pun tumbuhnya sebuah tanaman akan tetap dapat tumbuh dengan baik apabila nutrisi (unsur hara) yang dibutuhkan selalu tercukupi. Dalam konteks ini, fungsi dari tanah adalah untuk penyangga tanaman dan air  yang ada merupakan pelarut nutrisi, untuk kemudian bisa diserap tanaman.
            Pekarangan mushola itu pun kemudian menjelma menjadi semacam taman mini yang memberikan wajah baru bagi pemandangan sekitar mushola darul huda. Kemegahan yang lain muncul ketika lokasi taman yang masih kosong itu dimanfaatkan oleh fathurrahim dan kawan-kawan sebagai tempat menyemai ilmu pengetahuan. Dimulai dari program teras bahasa inggris, jum’at, 12 oktober 2018.


proses pembelajaran

Fathurrahim yang menjadi tutor bahasa inggris menuturkan bahwa, pemanfaatan lokasi taman ini sebagai ruang belajar adalah wujud sederhana pengabdian pemuda untuk kemajuan sumber daya manusia khususnya yang berada di dusun midang ini. Bahasa adalah pintu masuk kita membaca dan memahami perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin pesat oleh karena itu, belajar bahasa inggris ini bertujuan agar adik-adik ini kelak tidak rabun dalam mengisi zaman milenial ini.
            Dimulai pada jum’at sore walaupun peserta yang hadir tidak banyak, proses pembelajaran bahasa inggris berjalan dengan lancar dan menyenangkan. sedari awal, kawan-kawan sanggar ini selalu berpendapat bahwa kuantitas itu tidak terlalu urgen. Walaupun sedikit namun mereka mempunyai semangat belajar itu lebih cepat di isi dibanding kuantitas banyak dengan semangat belajar yang tidak karuan. Tentunya, harapan kawan-kawan sanggar ialah disamping kuantitas yang banyak juga motivasi belajarnya juga besar.
            Hari pertama belajar bahasa inggris, adik-adik diajarkan cara memperkenalkan diri. Setiap adik-adik disuruh maju untuk memperkenalkan diri mereka dengan menggunakan bahasa inggris. Metode ini disamping mengajari adik-adik menggunakan bahasa juga bisa melatih mental mereka berkomunikasi didepan khalayak ramai. Ini adalah semacam tuntutan primer diera keterbukaan informasi yang menggila ini.
Seusai belajar, tetangga mushola, ibu irok namanya, salah satu istri stap desa senior menyuguhkan pisang goreng untuk mengisi laju sore yang semakin melambai. Obrolan-obrolan kecil tercecer di meja bundar itu. Pak Rt 10 yang juga menjadi salah satu pengurus sanggar kemudian mengingatkan adik-adik seusai magrib masih ada pengajian rutin di sanggar. Pengajian sederhana ini hanya mengajarkan adik-adik dan kawan-kawan sanggar bagaimana cara membaca Qur’an untuk kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara petang akan bertamu, proses pembelajaran di taman mini itu pun disudahi dengan membaca do’a. Satu peristiwa penting telah bergelinding sore itu, bagaimana antusias dan semangat adik-adik dan tutor mereka untuk sama-sama belajar.

Senin, 08 Oktober 2018

program "Midang Hijau


Berawal dari kegusaran Fathurrahim ketika melihat kondisi halaman mushola darul huda yang sedikit tidak terurus. Tumpukan sampah berserakan, seperti tidak layak menjadi taman mushola yang digunakan untuk beribadah sehari-hari. Dari kegusuran itu, dia kemudian berinisiatif untuk membersihkan halaman mushola itu dan akan berkegiatan disana. Fat – nama panggilan sehari-harinya- awalnya, hanya mengajak kawan-kawan sanggar untuk bersih-bersih saja, belum terpikirkan akan membuat taman atau tempat belajar bertani. Sesudah halaman bersih, dia membaca potensi lahan yang cukup luas jika digunakan untuk belajar. Kemudian dia mengajak kawan-kawan sanggar belajar untuk menseriusi idenya itu dengan membuat program “midang hijau”. Midang hijau itu sendiri adalah program yang berusaha mengedukasi kawan-kawan sanggar secara khususnya, dan masyarakat midang secara umumnya akan pentingnya memanfaatkan pekarangan rumah untuk dijadikan lahan bertani. Saat ditanya apa tujuan dari program ini, Fathur menjawab:

“saya berharap dengan adanya program ini masyarakat bisa memanfaatkan sedikit pekarangan rumahnya untuk bercocok tanam dengan cara yang sederhana. Saya juga berfikir bahwa teman-teman ini mesti berkegiatan, mesti berlatih untuk mengasah skil yang di milikinya. yang menarik itu sebenarnya ada pada prosesnya, dengan adanya program ini, kita bisa melakukan penilaian terhadap setiap anggota sanggar, dari aspek ke aktifan, inisiatif, kerjasama. Dan terakhir, saya ingin membuktikan bahwa sanggar tidak sekaku yang orang pikirkan. Sanggar proaktif dan produktif, bisa menjadi motor berbagai program sosial, pendidikan, kesenian, dll”.

Sudah dua minggu program midang hijau telah berjalan. Mulai dari membersihkan halaman, belajar membuat pupuk, pembuatan meja, sampai dengan pembuatan pagar yang berguna untuk menghalangi ayam masuk ke taman. Yang menarik dari proses pembuatan pagar ini ialah ikut andilnya sebagian masyarakat dan mengapresiasi ide dari kawan-kawan sanggar ini. Pak Muhammad selaku ketua RT 2 mengatakan, dirinya telah lama menunggu program kreatif semacam ini. Menariknya juga, proses pembuatan pupuk itu dibimbing langsung oleh bayu. Bayu adalah pemuda yang menekuni hampir semua profesi. Dia bisa bertani, beternak, berbisnis dan menjadi dosen. Cukup besar andil pemuda kelahiran gunung sari ini.

Tidak sampai disitu, ketika kawan-kawan sanggar bersilaturahmi ke kediamannya prof husni muadz yang akrab dipanggil abah husni-inisiator dan pendiri sekolah perjumpaan- setelah mendengar keinginan dari kawan-kawan sanggar, prof husni memberikan kayu ramuan. Disamping bisa dijadikan sebagai wadah menaruh tanaman, kayu itu rencananya juga akan dijadikan meja bundar tempat kawan-kawan berdiskusi. Guru besar unram itu memang dikenal selalu terbuka kepada siapa saja. Semenjak kawan-kawan sanggar aktif dalam program sekolah perjumpaan, hubungan emosional kawan-kawan sanggar dengan pendiri sekolah perjumpaan itu seperti hubungan ayah dan anaknya. Sekali seminggu kawan-kawan sanggar menikmati kopi dikediaman beliau sembari meneguk ilmu beliau. Tidak main-main, beliau tahan meladeni mahasiswa sampai subuh. Jarang sekali kita jumpai tokoh seterbuka itu.

Hari minggu 7 oktober 2018, hari pertama proses menanam bibit cabai, terong, dan sayur-sayuran lainnya berjumlah sekitar 52 biji. Bibit-bibit ini kawan-kawan sanggar peroleh dari mantan kepala desa Midang, pak ahmadi. Beliau memberikan itu sebagai bentuk apresiasi kepada pemuda yang menaruh perhatian kepada sektor pertanian sekalipun sederhana. Pak ahmadi, sekalipun kesehariannya sibuk mengurus masyarakat, beliau tetap bertani dihalaman rumahnya. Tentunya masih akan datang bibit-bibit yang lain.“Setelah menanam, kini tinggal menyiram dan menjaga” ujar si roni yang dari awal aktif mengawal program ini.

Rabu, 08 November 2017

pergeseran spritual dikampus

Menuntut ilmu dalam perspektif agama islam merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar yang diperuntukan kepada semua muslimin dan muslimat. hal itu berlandaskan pada hadits Nabi Muhammad yang dalam agama islam merupakan sumber kedua setelah Al-Qur'an. Nabi Muhammad bersabda "menuntut ilmu itu  merupakan kewajiban bagi kaum muslimin dan muslimat (HR.Muttafak Alaih)". Jika hadits ini dikaitkan dengan undang-undang negara kesatuan rebublik indonesia yang menjamin atas semua warganya untuk mengenyam dunia pendidikan maka sesungguhnya warga negara indonesia ditekan oleh dua aturan yaitu aturan agama dan aturan negara.

kewajiban menuntut ilmu dalam agama islam memang secara tegas telah disyariatkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW namun persoalan lokasi atau tempat menuntut ilmu tidak pernah dijabarkan secara eksplisit oleh beliau. artinya, ilmu bisa dituntut dan dipelajari dimana saja asalkan ada kemauan dan guru yang ahli dalam ilmu tersebut.
kewajiban menuntut ilmu yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW tentu tidak berlaku untuk semua ilmu yang sangat luas itu. dalam ajaran agama islam, ada ilmu yang hukumnya fardu a'in (wajib bagi setiap individu) untuk dipelajari dan ada yang hukumnya fardu kifayah(cukup diwakilkan). adapun salah satu ilmu yang fardu a'in untuk dipelajari oleh kaum mulimin ialah ilmu Tauhid/akidah islamiyah.

Ilmu tauhid ini merupakan dasar dari segala bentuk macam ilmu yang tercecer dimuka bumi ini tanpa ilmu Tauhid manusia akan kehilangan ruh dari dirinya dan ruh dari ilmunya. ilmu Tauhid  memokuskan kajiannya pada Allah dan Rasulnya. bagaimana mengenal sang pencipta berikut sifat-sifat yang meliputinya, apa yang wajib bagi dirinya, yang jaiz dan yang mustahil. begitu pula terhadap Rasulnya.

dizaman modern ini, saat ilmu pengetahuan berada dalam puncak kejayaannya manusia cendrung menganggap bahwa kebenaran mutlak itu berada pada sains, terlebih dengan adanya pendeklarasian oleh beberapa ilmuan tentang indefendensi sains. artinya, sains tidak terpengaruh oleh apapun termasuk agama. oleh karna itulah, kecendrungan manusia modern-khususnya untuk kaum muslim- menganggap bahwa agama islam tidak mampu menjawab akan persoalan-persoalan duniawi semacam ini. perlahan demi perlahan manusia kemudian melupakan agama dan Tuhannya.

kelalaian semacam ini tidak hanya tenar diruang publik, namun juga dilembaga pendidikan islam seperti STAIN,IAIN dan UIN. pengaruh globalisasi yang tidak bisa dibendung memaksa mahasiswa mengkonsumsi literatur-literatur barat yang terlalu menitik tekankan akal sebagai sumber ilmu pengetahuan. yang lebih na'asnya, kebanyakan mahasiswa semacam ini tidak memiliki pondasi pelajaran agama dari sejak Tsanawiyah atau Aliyah walhasil, mahasiswa lulusan lembaga pendidikan islam tidak banyak yang bisa mengislamkan dirinya apalagi mengislamkan non muslim.

pergeseran spiritual didunia kampus semacam ini merupakan penomena unik. seharusnya kampus islam yang menjadi gambaran utuh tentang agama islam ternyata selama ini belum sempurna mengemban amanahnya. masih banyak yang perlu diperbaharui. misalkan dalam ranah kajian, kampus islam selama ini belum menemukan titik tekan pada kajian dasar filsafat islam. kita masih berkiblat pada filsafat barat yang tentunya sangat jauh berbeda dengan filsafat islam. perbedaan itu sangat mencolok ketika kita melihat konstruk pemikiran barat yang spekulatif sampai-sampai melanggar rambu-rambu agama. islam tidak mengharamkan filsafat, bahkan islam menganjurkan pemeluknya untuk berfilsafat selama itu tidak mengganggu keyakinan dasar tentang tauhid.

dalam agama islam, ada tiga epistimologi yang ditawarkan oleh al-jabiri. pertama epistimologi bayani, burhani dan irfani. epistimologi bayani lebih mengedepankan pemahaman teks secara tekstual saja. sehingga bunyi teks yang sudah jelas tidak perlu untuk dinalar lagi. adapun epistimologi burhani lebih menekankan sisi rasionalitas. akal dianggap mempunyai andil besar dalam memahami teks-teks agama. yang ketiga ialah epistimologi irfani yang lebih menitik beratkan pada ranah intuisi. dari ketiga epistimologi ini sesungguhnya agama islam tidak menutup diri dari dunia filsafat.

oleh karna itu, untuk menangani pergeseran spiritual didunia kampus ini perlulah kiranya membangun semangat beragama islam dikalangan mahasiswa/i. semangat beragama yang tidak melupakan sisi intelektual dan spritual. sehingga mahasiswa kelak akan menjadi pemikir dan pendakwah. ulama' yang berintelek dan intelek yang ulama'.

Kamis, 19 Oktober 2017

Transmisi Budaya Islam Ke erofa





Sebelum berbicara tentang transmisi budaya islam di eropa mari kita ketahui Satu penjelasan mengenai transmisi pengetahuan ilmiah dari satu kultur ke kultur lainnya di mana kultur dipahami terutama sebagai suatu wilayah merupakan satu gambaran mengenai gerakan produk-produk ilmiah; yaitu berupa pemindahan teks-teks, konsep-konsep, teori-teori, teknik-teknik, dan seterusnya dari satu kultur tertentu. Karena transmisi seringkali disertai oleh perubahan tertentu, maka suatu pendekatan kinematik mesti mempertimbangkan fakta-fakta tertentu transformasi, seperti fakta bahwa teks pada masa kemudian berbeda secara linguistik dengan teks pada masa awal (terjemahan); atau bahwa yang terakhir merupakan bentuk yang berbeda (ikhtisar, revisi, pengembangan, dan seterusnya) dari pertama.[1] Seperti diketahui bahwa perkembangan tradisi intelektualisme Islam kian menemukan bentuknya terutama terletak antara abad ke-8 dan ke-13 M. Dalam periode pertengahan inilah, oleh banyak ahli sejarah memandang dunia Islam sebagai mengalami "pencerahan intelektual".[2] Tradisi intelektualisme ini diawali dengan gerakan penerjemahan buku-buku Yunani dan bangsa lainnya ke dalam bahasa Arab yang berpusat di Bayt al-Hikmah di Baghdad. Ilmu-ilmu yang dicakup gerakan penerjemahan ini adalah ilmu kedokteran, matematika, fisika, mekanika, botanika, optika, astronomi di samping filsafat dan logika. Yang diterjemahkan adalah karangan-karangan Galinos, Hipocrates, Ptolomeus, Euclid, Plato, Aristoteles, dan lain-lain.[3] Dan buku-buku itu di telaah para cendikiawan muslim sehingga mereka mengerti ilmu yang ada pada saat itu dan semua itu juga berkat dorongan khalifah-khalifah abbasiyah baik yang berasal dari peradaban Yunani maupun Persia, Mesir dan dalam batas tertentu juga India.
Dalam mengakses ilmu dan peradaban Yunani, para cendekiawan Muslim tidak sekadar mencatat dan menerjemahkan karya tersebut, melainkan mengomentari, memberi notasi, dan mengembangkannya ke dalam hasil-hasil penelusuran mereka sendiri. Sehingga transmisi ilmu Yunani ke dalam dunia Islam di sini tidaklah dalam pengertian kinematik semata, tetapi justru menciptakan paradigma keilmuan yang khas dan tipikal Muslim, dan dengan begitu mereka berhasil dalam memulai tradisi ilmiah yang baru serta dalam bahasa yang baru pula. Selanjutnya untuk pengembangan ilmu-ilmu itu didirikanlah universitas-universitas. Yang termasyhur diantaranya, Universitas Cordoba di Andalusia (Spanyol Islam), Universitas Al-Azhar di Kairo, dan Universitas Al-Nizamiyah di Baghdad. Universitas yang disebutkan pertama, dalam perkembangannya tak sedikit menyertakan orang-orang Nasrani dari Eropa.[4]  terutama pada paruh awal abad ke-11guna mengikuti studi pada universitas dimaksud. Belakangan, universitas ini menjadi salah satu tempat terpenting dalam transmisi sains dan budaya dari dunia Islam ke Barat. Dan disanalah banyak orang datang dari berbagai negara menuntut ilmu di Eropa. Adapun kita akan membahas bagaimana bentuk dari transmisi budaya islam ke Eropa. Transmisi budaya islam ke Eropa mempunyai banyak bentuk dan proses yang terjadi, pada masa itu. Sesungguhnya, pengaruh peradaban Muslim (Abad Pertengahan) jauh lebih luas dibanding "sekadar" peletakan landasan sains modern. M.M. Sharif, salah seorang pemikir Muslim Pakistan terkemuka pasca Iqbal seperti dikutip Haidar Bagir menambahkan beberapa sumbangan lain pemikiran Islam atas pemikiran Barat: pengenalan ilmu-ilmu sejarah; penyelarasan filsafat dengan agama; penggalakan mistisisme Barat; peletakan landasan bagi Renaisans di Itali; dan sampai tingkat tertentu membentuk pemikiran Eropa modern hingga masa Immanuel Kant, bahkan (pada jurusan tertentu) hingga masa yang lebih belakang.[5]  Berikut adalah proses dan bentuk terjadinnya transmisi budaya islam ke Eropa yaitu melalui perang salib, sicilia, dan andalusia.
A. MELALUI PERANG SALIB
Siria dan sekitarnya, seperti diketahui adalah wilayah di mana Islam dan Barat berjumpa dalam bentuk perang Salib. Perang yang berlangsung antara 1095 sampai 1291 ini, sedikitnya punya pengaruh terhadap transmisi pemikiran dan sains Islam ke Barat. Kendati demikian, disadari bila pengaruh perang salib di sini tidaklah begitu intens, mengingat orang-orang yang datang sebagai pasukan Salib adalah ksatria-ksatria perang dan bukan ilmuan. Sehingga, dapat dikatakan bahwa sekiranya pun terjadi transmisi akibat perang salib tetapi bentuknya tak lebih dari peniruan tatacara hidup sebagai hasil kekaguman Barat dalam hal ini pasukan Salib terhadap masyarakat Islam yang mereka lihat. Transmisi terlihat terutama pada kemiliteran, arsitektur, teknologi pertanian, industri, rumah-rumah sakit, permandian umum, dan dalam batas tertentu juga sastra.
Di samping dua bentuk yang mengakibatkan terjadinya transmisi pemikiran dan sains Islam ke Barat, tak sedikit historian melihat bila terdapat pula pengaruh kontak pribadi dalam proses itu. Pandangan ini berangkat dari satu kenyataan bahwa sejak penaklukan Siria, Mesir dan Persia oleh ekspedisi-ekspedisi Islam sejak khalifah 'Umar ibn al-Khattab, tak sedikit orang-orang Kristen di Timur (Bizantium) menjalin kontak pribadi dengan orang-orang Islam. Karena semangat liberasi, moderasi dan toleransi yang dimiliki umat Islam, sehingga orang-orang Kristen tidak menemukan halangan dalam mengikuti kegiatan intelektual dan kebudayaan kaum Muslim. Tak jarang di antara mereka menjadi tokoh-tokoh penting dalam gerakan keilmuan Islam yang lahir kemudian. Mereka pula yang kelak banyak membantu menerjemahkan karya-karya keilmuan Yunani ke dalam bahasa Arab, dan selanjtnya, terutama pada paruh awal abad ke-11, karya-karya terjemahan berbahasa Arab itulah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh sarjana-sarjana Barat.[6] Dengan adanya perang salib ini banyak membawa keuntungan bagi benua Eropa. Perhubungan orang Kristen dengan orang Timur Tengah memberikan kemjuan dalam berbagai bidang. Ketika kembali ke Eropa kapal-kapal mereka membawa barang-barang berharga seperti kain tenun sutera, bejana dari porselin, dan lain-lain. Sedangkan dari jenis tumbuh-tumbuhan yang dibawa ke Eropa antara lain: sejenis biji-bijian, tanaman padi, pepohonan jeruk, semangka, bawang putih, tumbuhan obat-obatan, tumbuhan yang mengandung zat pewarna dan rempah-rempah.
B. MELALUI NEGERI SICILIA
Sebagai titik persentuhan dari dua lapangan kebudayaan, maka pulau Sicilia teristimewa merupakan alat penghubung untuk meneruskan pengetahuan kuno dan pengetahuan abad pertengahan. Sebagian rakyatnya terdiri dari elemen Yunani yang berbahasa Yunani, sebagian dari elemen muslim yang berbahasa Arab, dan suatu golongan sarjana yang paham akan bahasa latin. Sejak raja-raja Norman dan para pengganti kerajaan Sicilia menguasai bukan hanya pulau tersebut, melainkan juga Italia Selatan, maka merekalah yang merupakan jembatan untuk menyeberangkan berbagai kebudayaan Islam ke semenanjung Italia dan Eropa Tengah.
Di wilayah ini, sains Islam, khususnya kedokteran dipelajari di Salermo. Penerjemahan besar-besaran dilakukan terutama oleh Constantinus Africanus (1087 M) yang beruntung menjadi murid seorang Arab. Dari terjemahan-terjemahan bahasa Arab, ia menghasilkan terjemahan Latin karya-karya Hipocrates dan Gales di samping menerjemahkan karya-karya orisinal sarjana-sarjana Muslim. Di Palermo, ibukota Sisilia, juga timbul gerakan penerjemahan besar-besaran pada abad ke-13 M di bawah dorongan Raja Fredrick II dan Roger II. Dari sini, karya-karya terjemahan itu dibawa ke Eropa bagian selatan, dan kelak melahirkan Renaisans di Itali.[7]
C. MELALUI ANDALUSIA (SPANYOL)
Di Andalusia banyak sekali universitas yang didirikan. Di sana, orang-orang Eropa banyak berdatangan untuk kepentingan studi dan transfer cultural. Sebut saja misalnya, Michael Scot, Robert Chester, Adelard Barth, Gerard dari Cremona, dan lain-lain nama yang merintis kegiatan studi di Andalusia. Pelajaran yang diberikan di Universitas Granada antara lain ilmu ketuhanan, yurisprudensi, kedokteran, kimia, filsafat, dan asstronomi. Terdapat pula gedung-gedung perpustakaan, ruang untuk diskusi dan rumah sakit. Setelah granada jatuh pada tanggal 2 januari 1492 ke tangan Ferdinand dan istrinya Isabella, buku-buku yang berbahasa Arab dibakar atas perintahnya.[8]
Di Andalusia sedikit demi sedikit umat Islam kehilangan wilayah kekuasaanya. Mula-mula kota Toledo direbut oleh kriten pada tahun 1085 M, hilanglah pusat sekolah tinggi dan pusat ilmu pengetahuan Islam beserta segala isinya yang terdiri dari perpustakaan bersama ilmuwan-ilmuwannya.
Tahun 1236 M, menyusul Cordova dirampas oleh raja Alfonso VII dari Castilia, maka hilang pula pusat kebudayaan dunia disebelah barat beserta masjid raya Cordova yang didirikan oleh amir-amir Umayyah di Andalusia, perpustakaan yang didirikan oleh Hakam II dengan buku-bukumya dari segala cabang ilmu. Kehilangan itu terus berlanjut kota demi kota, menyusul Sevilla, Malaga, dan Granada. Akhirnya umat islam beserta raja Bani Ahmar terakhir, Abu Abdullah harus terusir dari Andalusia. Tanah airnya yang telah ditempati lebih dari 75 abad dengan meninggalkan apa yang pernah diciptakan, baik kebudayaan secara fisik berupa peradaban dan ilmu pengetahuan, maupun miliknya secara rohani berupa penganut Islam dari penduduk asli Andalusia yang digelari Muzarabes (Mustaribun) yang dipaksa untuk menjadi kristen kembali.golongan Muzarabes inilah yang mengalirkan kembali ilmu pengetahuan Islam ke Eropa.[9] Penyaluran ilmu pengetahuan ke Eropa dimulai ketika Toledo jatuh ke tangan kristen. Untuk mempermudah penyerapan ilmu-ilmu Arab, di Toledo didirikan sekolah tinggi terjemah. Pekerjaan ini dipimpin oleh Raymond. Buku-buku yang disalin adalah buku-buku bahasa Arab yang masih tersisa dari pembakaran. Penerjemah baghdad banyak yang dipindah ke Toledo, terutama yang berasal dari bangsa Yahudi. Sebagian besar dari merek dapat menguaai bahasa Arab, Yahudi, Spanyol, dan Latin. Di antara penerjemah yang terkenal adalah Avendeath (Ibnu Daud, bangsa Yahudi), yang menyalin buku astronomi dan astrologi dalam bahasa latin. Satu lagi Gerard Cremona, mencoba mengimbangi pekerjaan hunaain bin Ishak menyalin buku-buku filsafat, matematika, dan ilmu kedokteran.[10]
Demikianlah, kemudian Toledo menjadi pusat perkembangan ilmu-ilmu Islam ke dunia barat. Peranan Toledo bertambah lengkap setelah umat Islam diusir dari Andalusia. Buku-buku yang tersisa dari kota-kota lain di Andalusia seperti Cordova, Sivilla, Malag, dan Granada, dapat mereka manfaatkan. Bangsa barat benci terhadap Islam, akan tetapi haus kepada ketinggian ilmu dan peradabanya.[11] Kemajuan Eropa yang berkembang pada saat itu banyak sekali berhutang budi pada khazanah islam yang berkembang pada pereode klasik. Memang banyak saluran atau bentuk-bentuk yang terjadi sehingga menyebabkan transmisi budaya islam ke Eropa sebagaimana kita ketahui melaui perang salib, sicilia dan spanyol sendiri.[12] Dan dari berbagai bentuk dan proses di atas faktor utama yang menyebabkan terjadinya transmisi budaya islam adalah karena keinginan dari setiap Negara di belahan Eropa untuk mengembangkan budaya dan ilmu  di Negara mereka masing-masing, bila dilihat dari proses dan bentuk-benuk transmisi yang terjadi. Yang berproses dari menterjemakan buku-buku arab kedalam bahasa latin agar mereka bisa memahami dengan baik dan menelaah apa yang ada didalamnya.



[1] Lihat, A.I. Sabra, "Cross Cultural Transmission of Natural Knowledge and Its Social Implication", Paper, h. 1
[2] ibid
[3] Harun Nasution, "Peran Ajaran Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan" dalam Islam Rasional, (Cet. I; Bandung: Mizan, 1995), h. 298-299.
[4] Philip K. Hitti, History of The Arabs, (London: Mac Millan & Co. Ltd, 1964), h. 530.
[5] Haidar Bagir, "Jejak-jejak Sains Islam dalam Sains Modern", jurnal Ulumul Qur'an, No. 2 Vol. 2 thn. 1989, h. 34-5.
[6] Lihat, Ulumul Qur'an, No. 4, Vol. IV, Thn. 1993, h. 29-32.
[7] Harun Nasution, op. cit., h. 302.
[8] Nourouzzaman Shiddiqi, Tamaddun Islam: Bunga Rampai Kebudayaan Muslim, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), h. 67-80.
[9]  ibid
[10] Samsul Munir, Sejarah Peradaban Islam, (jakarta: sinar grafika offset, 2010), hlm. 119-120, 122
[11] ibid
[12] Badri yatim, sejarah peradaban islam, (Jakarta : PT Raja grafindo prasada, 2004) hlm 108

Bangsal Menggawe; sebuah catatan pribadi #4

Sudah cukup lama saya tidak lagi menggeluti sepak bola. Terakhir, seingatku, dua tahun berturut-turut menjadi juara ke tiga tingkat kecama...